Bersegeralah Ke Masjid

Jumat adalah sebaik-baik hari dan dikenal dengan Sayyidul Ayyam (penghulu semua hari). Allah memuliakan hari Jumat dengan mencurahkan banyak nikmat termasuk dikabulkannya doa-doa hamba-Nya.

Ada dua perintah Allah yang dikhususkan-Nya untuk orang-orang beriman. Yaitu, bersegera menunaikan sholat Jumat dan meninggalkan aktivitas jual beli. Berikut firman-Nya:

” Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan, dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki .” (QS Al-Jumuah: 9-11)

Keutamaan Meninggalkan Perniagaan Saat Sholat Jumat

Dalam Surat Jumuah Ayat 11, kaum mukmin diperingatkan agar meninggalkan urusan perniagaan. Allah menegaskan bahwa apa yang di sisi-Nya lebih baik dari perdagangan di dunia.

” Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan, dan Allah pemberi rezeki yang terbaik .” (QS. Al-Jumuah Ayat 11)

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan at-Tirmizi dari Jabir bin Abdullah bahwa ketika Nabi berdiri berkhutbah pada hari Jumat, tiba-tiba datanglah rombongan unta (pembawa dagangan), maka para sahabat Rasulullah bergegas mendatanginya sehingga tidak ada yang tinggal mendengarkan khotbah kecuali 12 orang. Saya (Jabir), Abu Bakar, dan Umar termasuk mereka yang tinggal, maka Allah Taala menurunkan ayat: “wa idha raau tijaratan au lahwan”, sampai akhir surah).

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan, pada ayat ini Allah mencela perbuatan orang-orang mukmin yang lebih mementingkan kafilah dagang yang baru tiba dari pada Rasulullah, sehingga mereka meninggalkan Nabi Muhammad dalam keadaan berdiri berkhutbah.

Ayat ini berhubungan dengan peristiwa kedatangan Dihyah al-Kalbi dari Syam (Suriah), bersama rombongan untanya membawa barang dagangannya seperti tepung, gandum, minyak dan lain-lainnya. Menurut kebiasaan apabila rombongan unta dagangan tiba, wanita-wanita muda keluar menyambutnya dengan menabuh gendang, sebagai pemberitahuan atas kedatangan rombongan itu, supaya orang-orang datang berbelanja membeli barang dagangan yang dibawanya.

Selanjutnya Allah memerintahkan Rasul-Nya supaya menyampaikan kekeliruan perbuatan mereka dengan menegaskan bahwa apa yang di sisi Allah jauh lebih baik daripada keuntungan dan kesenangan dunia. Kebahagiaan akhirat itu kekal, sedangkan keuntungan dunia akan lenyap.

Surat ini ditutup dengan satu penegasan bahwa Allah itu sebaik-baik pemberi rezeki. Oleh karena itu, kepada-Nyalah kita harus mengarahkan segala usaha dan ikhtiar untuk memperoleh rezeki yang halal, mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya dan rida-Nya.

Dianjurkan kepada siapa yang telah selesai Sholat Jumat membaca doa yang biasa dipanjatkan oleh Arrak bin Malik.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku telah memenuhi panggilan-Mu, dan melaksanakan kewajiban kepada-Mu, dan bertebaran (di muka bumi) sebagaimana Engkau perintahkan kepadaku, maka anugerahkanlah kepadaku karunia-Mu. Engkaulah sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim)

Mungkin Anda Menyukai